Baru Berkeluarga? Ketahui 4 Tujuan Keuangan Utama Ini untuk Masa Depan Sejahtera!

Baru Berkeluarga? Ketahui 4 Tujuan Keuangan Utama Ini untuk Masa Depan Sejahtera!

Posted By: Admin, 2022-10-15


  Share:


Setelah menikmati masa lajang, fase hidup seseorang umumnya beranjak menuju fase berkeluarga. Menikah dan membangun keluarga sendiri. Di fase dewasa muda dengan status berkeluarga, tantangan yang dihadapi seseorang biasanya akan lebih banyak.

Baca Juga: Tips Manajemen Keuangan Keluarga Saat Menjadi Orang Tua Baru

Ketika masih lajang, seseorang hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Dari sisi finansial, pengeluaran seorang lajang belum terlalu besar. Sebaliknya, begitu menginjak fase baru dengan status menikah atau berkeluarga, tanggung jawab dan tingkat pengeluaran pun turut bertambah

Anda yang sudah berkeluarga tentu merasakan perbedaan fase tersebut. Menikah dan membentuk keluarga otomatis membuat tanggung jawab Anda menjadi lebih banyak. Ada jenis-jenis kebutuhan yang mungkin baru muncul ketika Anda sudah menikah. Misalnya, kebutuhan uang belanja keluarga, kebutuhan pembelian rumah, mobil, kebutuhan uang sekolah anak, dan lain sebagainya.

Peran dan tanggung jawab yang semakin banyak selaku kalangan yang sudah berkeluarga idealnya mendorong Anda untuk lebih serius mengelola keuangan pribadi. Banyak kasus di mana keuangan sebuah keluarga berantakan terjadi karena terlambat mengelola keuangan secara sehat dari jauh-jauh hari.

Pengelolaan keuangan setelah menikah

Secara umum ada tiga hal yang membedakan pengelolaan keuangan ketika sudah menikah. Pertama, kebutuhan dana darurat. Ketika masih lajang, Anda tidak dituntut untuk menyiapkan pos dana darurat dalam jumlah besar. Cukup menyediakan emergency fund sekitar 3 kali besar pengeluaran rutin bulanan saat status masih lajang. Namun, ketika Anda sudah menikah, otomatis kebutuhan besar dana darurat jadi lebih besar yaitu minimal sebesar 6 kali pengeluaran rutin bulanan.

Kedua, kebutuhan asuransi jiwa. Seperti disinggung di atas, saat seseorang yang masih lajang umumnya belum menanggung kebutuhan siapapun selain dirinya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang sudah menikah otomatis memiliki tanggungan. Kehadiran tanggungan ini melahirkan kebutuhan atas asuransi jiwa. Ini sebagai langkah mitigasi risiko finansial apabila sewaktu-waktu terjadi risiko meninggal dunia pada pencari nafkah utama keluarga.

Ketiga, kebutuhan keuangan. Saat Anda masih lajang, Anda belum memiliki tuntutan untuk mulai menabung dana pendidikan anak. Anda mungkin juga belum terbebani untuk membeli rumah sehingga masih belum terpikir mengambil kredit pemilikan rumah.

Namun, saat sudah menikah atau berkeluarga, Anda yang berencana memiliki anak atau malah sudah dikaruniai anak sudah seharusnya mulai memikirkan kebutuhan dana pendidikan anak. Begitu juga dengan kebutuhan atas tempat tinggal atau kendaraan pribadi yang relatif lebih besar ketika sudah berkeluarga dibandingkan saat masih lajang.

Tiga perbedaan tersebut akan memengaruhi apa saja tujuan keuangan yang sebenarnya perlu menjadi fokus pada keluarga muda. Konsekuensi finansial yang terjadi menyusul perubahan status dari lajang menjadi berkeluarga perlu pengelolaan yang juga berbeda agar keuangan yang sehat bisa diwujudkan.

Baca Juga: 5 Tips Manajemen Keuangan Rumah Tangga Agar Tidak Kacau

Lantas, apa saja tujuan keuangan keluarga muda yang perlu diutamakan? Mari melihat paparan di bawah ini:

1. Menyusun dana darurat

Dana darurat menjadi salah satu fokus penting setiap keluarga muda. Sesuai namanya, dana darurat ditujukan untuk mengantisipasi kebutuhan dana yang sifatnya tak terduga atau darurat. Ini supaya Anda tidak langsung memutuskan meminjam uang ketika dihadapkan pada situasi darurat yang membutuhkan dana tunai segera.

Bagi keluarga muda dengan tanggungan jiwa belum terlalu banyak, nilai ideal kebutuhan dana darurat menurut para perencana keuangan adalah sebesar 6 kali nilai pengeluaran bulanan. Jadi, bila nilai pengeluaran rutin bulanan Anda mencapai Rp 5juta per bulan, maka dana darurat yang perlu Anda siapkan adalah Rp30 juta.

Tidak perlu kecil hati melihat besarnya nilai kebutuhan dana darurat yang perlu Anda kumpulkan. Mulai sekarang, mulailah mencicil pengumpulan dana darurat sedikit demi sedikit. Setiap mendapatkan penghasilan rutin, sisihkan paling tidak 10?ri penghasilan untuk disimpan sebagai emergency fund.

2. Memiliki asuransi jiwa

Setelah memulai pengumpulan dana darurat, saatnya Anda beranjak ke tujuan keuangan berikutnya yang tak kalah penting. Yaitu, memiliki asuransi jiwa memadai. Dengan status Anda saat ini yang sudah menikah dan membentuk keluarga, otomatis Anda memiliki tanggungan. Bila status Anda sebagai suami dan pencari nafkah utama, Anda menanggung istri dan anak.

Ada risiko finansial yang besar yang dihadapi oleh keluarga Anda apabila sewaktu-waktu Anda meninggal dunia. Anda bisa mengelola risiko finansial itu dengan membeli produk asuransi jiwa. Pilihlah produk asuransi jiwa dengan uang pertanggungan sesuai kebutuhan sehingga biaya premi yang Anda keluarkan bisa efisien.

3. Mengumpulkan dana pendidikan anak

Inflasi dana pendidikan anak bisa di atas 10% tiap tahun. Tanpa persiapan dana pendidikan anak yang memadai, Anda menghadapi risiko kesulitan finansial di masa mendatang. Maka itu, menyiapkan dana pendidikan anak menjadi salah satu tujuan keuangan keluarga muda yang penting.

Kapan seseorang perlu menyiapkan dana pendidikan? Para perencana keuangan menegaskan, begitu anak lahir, ketika itu pula Anda sudah harus mulai menyiapkan rencana dana pendidikan anak. Semakin awal Anda memulai pengumpulan dana, semakin ringan nanti beban penyisihan penghasilan untuk kebutuhan tersebut.

Agar efektif dalam melawan laju inflasi di masa mendatang, hindari mengumpulkan dana pendidikan anak di produk berimbal hasil rendah seperti tabungan bank. Investasikan dana pendidikan anak di instrumen yang mampu tumbuh melampaui laju inflasi. Misalnya, reksadana, saham, emas atau properti. Tentu saja Anda perlu menyesuaikan pilihan instrumen tersebut dengan profil risiko dan target penggunaan dana.

4. Memulai dana pensiun

Masih muda sudah harus memulai dana pensiun? Benar sekali. Walaupun usia Anda saat ini masih relatif muda dan tengah menghadapi banyak tuntutan kebutuhan, jangan lupa untuk mencicil kebutuhan dana pensiun kelak.

Ketahui lebih dulu berapa perkiraan kebutuhan dana pensiun Anda kelak sesuai dengan target usia pensiun dan asumsi usia harapan hidup. Setelah mengetahui nilai kebutuhan, Anda bisa menentukan strategi yang tepat untuk mengumpulkan dana pensiun.

Baca Juga: Cara Atur Keuangan Rumah Tangga

Perencanaan pensiun termasuk rencana jangka panjang sehingga Anda bisa memanfaatkan instrumen investasi yang mampu melawan inflasi dalam jangka panjang.

Yuk, saatnya menyusun keuangan demi mencapai tujuan keluarga!

Sumber: https://unsplash.com/photos/KhStXRVhfog